Selasa, 24 Desember 2013

MAKALAH TUBEKTOMI

Tubektomi merupakan suatu tindakan memotong atau menutup salura tuba falopi sehingga memutuskan jalur pertemuan ovum dan sperma. Kontrasepsi mantap (kontap) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu yang tidak terbatas yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami istri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela. sistem reproduksi perempuan itu terdiri dari beberapa bagian utama.
Diantaranya adalah rahim (uterus), liang sanggama (vagina), saluran telur (tuba faloppii), dan indung telur (Ovarium). Dari ke empat bagian utama tersebut, salah satunya akan berhubungan dengan proses tubektomi. Bagian yang menjadi objek tubektomi tersebut adalah tuba falopii atau saluran telur. metode tubektomi ini adalah metode jangka panjang, bisa seumur hidup, dan merupakan metode sterilisasi supaya anda tidak lagi memiliki anak. Sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang dilakukan dengan cara operasi. prosedur bedah sukarela / operasi untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan secara permanen. Berdasarkan cara atau metodenya, tubektomi ini dibedakan menjadi dua yaitu minilaparotomi dan laparoskopi. Minilaparotomi adalah tindakan operatif diagnostik atau klinik terapeutik dengan melakukan sayatan kecil (1,5–3 sentimeter) pada dinding perut. sedangkan laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan peneropongan memakai alat melalui sayatan pada dinding perut, setelah lebih dahulu dilakukan pengisian dengan udara atau gas ke dalamnya (KBBI daring). Bingung? Oke, tidak apa-apa anda menjadi bingung dengan penjelasan minilaparotomi dan laparoskopi. Yang penting sekarang adalah, anda mengetahui bahwa tubektomi itu dilakukan dengan metode operasi pada dinding perut, serta mengikat saluran telur atau tuba faloppii supaya proses pengeluaran sel telur menjadi terhambat. 2.2 Prinsip Kerja Tubektomi Dengan mengikat atau memotong atau juga memasangkan cincin pada saluran telur, maka pengeluaran sel telur akan menjadi terhambat. Akhirnya sel sperma tidak akan bertemu dengan sel telur. ambil sebuah selang yang agak panjang, kemudian hubungkan dengan kran air. Anda bayangkan bahwa selang air tersebut adalah tuba falopii, sedangkan kran air adalah ovarium atau indung telur, dan air dari kran tersebut adalah sel telur. Ketika kran air dibuka, maka air akan mengalir melewati selang tersebut bukan? Nah, sekarang coba anda tekan di salah satu bagian selang. Bagaimana dengan airnya? Tidak keluar lagi, bukan? Akan terhambat pada bagian yang anda tekan. Seperti itulah prinsip kerja dari tubektomi. Ketika saluran telur anda sudah diikat, maka sel telur tidak akan berhasil melewati ikatan tersebut. Pada akhirnya dia akan hancur dan tereduksi didalam tubuh tanpa berhasil melewati ikatan tersebut untuk bersemayam di tuba falopi. Sehingga pembuahan tidak akan pernah terjadi. Berikut adalah gambar dari metode tubektomi. Hubungan dengan menstruasi Seperti yang kita ketahui, sebenarnya menstruasi adalah peluruhan dinding rahim yang menebal pada saat sel telur akan (sedang) dikeluarkan dari indung telur. ketika sudah menjadi akseptor tubektomi, maka sel telur anda hancur dan tereduksi, sebelum mencapai tempatnya bersemayam menunggu sel sperma, karena tuba falopiinya sudah diikat. Jadi, pada saat pengeluaran sel telur ini, dinding rahim anda tetap menebal karena ‘menyangka’ bahwa sel telur akan keluar seperti biasa. Ketika tidak terjadi pembuahan, dinding rahim yang tebal tersebut akan meluruh karena ternyata tidak ada pembuahan yang terjadi. Itulah yang dinamakan menstruasi. Dan ketika anda sudah menjadi akseptor tubektomi, siklus menstruasi ini akan lancar seperti biasa. Tidak terganggu oleh faktor-faktor seperti halnya ketika anda menggunakan alat kontrasepsi hormonal maupun non hormonal lainnya. 2.3 Syarat –Syarat Wanita yang Boleh berTubektomi dan tidak Wanita yang boleh Bertubektomi 1. Perempuan usia diatas 26 tahun 2. Memiliki keturunan lebih dari dua 3. Sudah memiliki keinginan dan keyakinan untuk tidak menambah anak lagi 4. Perempuan yang jika hamil, akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius dan membahayakan. 5. Memahami prosedur dan tindakan tubektomi, serta sukarela setuju dengan prosedur tubektomi. Wanita yang Tidak Boleh Bertubektomi 1. Perempuan yang sedang hamil atau terdeteksi hamil 2. Terjadi perdarahan vaginal yang belum jelas penyebabnya. Harus ada pemeriksaan jika terjadi hal ini. 3. Terjadi infeksi daerah pelvik ataupun di daerah rahim yang akut, hingga disembuhkan terlebih dahulu. 4. Perempuan yang tidak boleh menjalani proses pembedahan 5. Belum memiliki keyakinan yang pasti tentang keinginannya melaksanakan tubektomi 6. Tidak memiliki izin dari suami 2.4 Manfaat dan Keterbatasan Tubektomi Manfaat: 1. Sangat efektif, karena merupakan metode kontrasepsi permanen. 2. Tidak mempengaruhi proses pemberian ASI 3. Tidak bergantung pada faktor senggama 4. Akan lebih bermanfaat bagi anda yang memiliki riwayat kehamilan beresiko karena akan terhindar dari keadaan tersebut 5. Dilakukan dengan pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal 6. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang, serta 7. Tidak mempengaruhi keadaan fungsi seksual karena tidak ada efek pada produksi hormone ovarium. Keterbatasan: 1. Metode ini merupakan metode kontrasepsi permanen yang tidak dapat dipulihkan kembali, kecuali dengan operasi rekanalisasi 2. Anda mungkin akan menyesal di kemudian hari karena memilih metode ini. Ini bisa terjadi jika anda belum memiliki keyakinan yang benar-benar mantap memilih metode ini. 3. Akan mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan jangka pendek setelah dilakukan pembedahan 4. Risiko komplikasi dapat meningkat jika dilakukan anestesi umum 5. Dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah jika yang dilakukan adalah proses laparoskopi 6. Tidak dapat melindungi anda dari infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS 2.5 Waktu yang Harus melakukan Tubektomi Tubektomi bisa dilaksanakan setiap waktu selama siklus menstruasi selama anda yakin tidak sedang hamil, atau diprediksi sedang hamil. Atau anda juga bisa menghitung dari situs menstruasi anda, yaitu hari ke 6 hingga hari ke 13 siklus menstruasi anda. Apabila anda saat ini sedang hamil, dan merencanakan untuk melaksanakan metode tubektomi pascapersalinan nanti, maka disarankan anda memilih metode minilaparotomi dalam waktu 2 hari, atau setelah 6 minggu, atau 12 minggu pascapersalinan. Sedangkan untuk anda yang mengalami keguguran, dan ingin menghentikan untuk tidak lagi hamil karena satu dan lain sebab, maka triwulan pertama pasca keguguran boleh dengan metode minilaparotomi atau laparoskopi. Ketika masuk triwulan kedua pascakeguguran, hanya minilaparotomi saja yang diperbolehkan. Hindari dulu hubungan intim dengan suami hingga anda benar-benar merasa nyaman. Hindari pula mengangkat benda-benda berat dan bekerja keras selama 7 hari pertama setelah operasi. Jika bekas operasi terasa sakit, minumlah 1 atau 2 tablet analgesic penghilang nyeri setiap 4 hingga 6 jam. Buatlah jadwal kunjungan pemeriksaan secara rutin antara 7 hingga 14 hari setelah operasi. BAB III JENIS-JENIS TUBEKTOMI 3.1 Jenis-Jenis dan Cara Tubektomi • Cara MadlenerBagian tengah dari tuba diangkat dengan cunam Pean sehingga terbentuk suatu lipatanterbuka. Kemudian dari dasar lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat, danselanjutnya dasar itu diikat dengan benang yang tidak dapat diserap. Pada cara ini tidak dilakukan pemotongan tuba. Sekarang cara Madlener tidak dilakukan lagi karena angkakegagalannya relative tinggi yaitu 1-3%.2. • Cara IrvingPada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserao; ujung proksimaldari tuba ditanamkan ke dalam miometrium, sedangkan ujung distal ditanamkan ke dalamligamentum latum.4. • Cara AldridgePeritneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersama-samadengan fimbriae ditanam ke dalam ligamentum latum • Cara PomeroyCara ini banyak dilakukan. Cara ini dilakukan dengan mengangkat bagian tengah darituba sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat denganbenang dapat diserap, tuba di atas dasar itu dipotong. Setelah benang pengikat diserap,maka ujung-ujung tuba terpisah satu sama lain. Angka kegagalan berkisar 0,40 % • Cara UchidaPada cara ini tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil (minilaparotomi) diatas simfisis pubis. Kemudian di daerah ampula tuba dilakukan suntikan dengan larutanadrenalin dalam air garam di bawah serosa tuba. Akibat suntikan ini, mesosalping daerahtersebut menggembung. Lalu dibuat sayatan kecil, di daerah yang kembung tersebut.Serosa dibebaskan dari tuba sepanjang 4-5 cm, tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit,diikat lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya dibawah serosa, sedangkan ujung tuba yang distal dibiarkan berada di luar serosa. Lukasayatan dijahit secara kantong tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0.6. • Cara KroenerBagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operassi. Suatu ikatan dengan benangsutera dibuat melalui bagian mesosalping di bawah fimbria. Jahitan ini diikat dua kali,satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari jahitansebelumnya. Seluruh fimbria dipotong. Setelah pasti tidak ada perdarahan, maka tubadikembalikan ke dalam rongga perut. Teknik ini banyak digunakan. Keuntungan cara iniantara lain adalah sangat kecilnya kemungkinan kesalahan mengikat ligamentumrotundum. Angka kesalahan 0,19% 3.2 Manfaat Kontrasepsi dan Non Kontrasepsi Kontrasepsi a. Sangat efektif (0.5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan) b. Tidak mempengaruhi proses menyusui c. Tidak bergantung pada factor senggama d. Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi resiko kesehatan yang serius e. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anastesi local f. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang g. Tidak ada perubahan dalam funfsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormone ovarium) Manfaan Non Kontrasepsi a. Berkurangnya resiko kangker rahim 3.3 Wanita Yang Dapat Menjalani Tubektomi 1. Usia > 26 tahun 2. Paritas > 2 3. Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya 4. Pada kehamilannya akan menimbuklan kesehatan yang serius 5. Pasca persalinan 6. Pasca keguguran 7. Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini 3.4 Efek Samping Tubektomi • Menstruasi tidak teratur • Rasa panas (hot flashes) • Keringat malam • Panas dingin • Kecemasan atau depresi • Penipisan rambut dan kuku • Nyeri payudara • Berat badan naik/turun • Osteoporosis 3.5 Komplikasi Tubektomi Setelah operasi, Anda akan merasakan sakit dan mual dalam 4-8 jam pertama (Anda mungkin perlu obat penghilang rasa sakit untuk sementara). Perut akan tidak nyaman selama 24 sampai 36 jam. Anestesi mungkin menimbulkan mual, muntah, kantuk, gemetaran dan reaksi negatif lainnya. Seperti pembedahan lainnya, tubektomi berisiko infeksi, perdarahan, kerusakan akibat kecelakaan pada organ lain, dan komplikasi lainnya. Namun, risiko komplikasi ini cukup rendah. Menurut jurnal Obstetrics and Gynecology, risiko komplikasi tubektomi laparoskopi kurang dari satu persen. Risiko lebih tinggi pada wanita yang merokok, kelebihan berat badan, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti infeksi panggul. Anda dapat mengurangi risiko komplikasi dengan mengikuti instruksi dokter sebelum dan setelah prosedur. Komplikasi jarang lainnya adalah penyakit radang panggul, di mana infeksi meluas dalam saluran tuba dan rahim dan mungkin juga melibatkan struktur perut lainnya BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Tubektomi merupakan suatu tindakan memotong atau menutup salura tuba falopi sehingga memutuskan jalur pertemuan ovum dan sperma. Wanita yang boleh Bertubektomi 6. Perempuan usia diatas 26 tahun 7. Memiliki keturunan lebih dari dua 8. Sudah memiliki keinginan dan keyakinan untuk tidak menambah anak lagi 9. Perempuan yang jika hamil, akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius dan membahayakan. 10. Memahami prosedur dan tindakan tubektomi, serta sukarela setuju dengan prosedur tubektomi. Wanita yang Tidak Boleh Bertubektomi 7. Perempuan yang sedang hamil atau terdeteksi hamil 8. Terjadi perdarahan vaginal yang belum jelas penyebabnya. Harus ada pemeriksaan jika terjadi hal ini. 9. Terjadi infeksi daerah pelvik ataupun di daerah rahim yang akut, hingga disembuhkan terlebih dahulu. 10. Perempuan yang tidak boleh menjalani proses pembedahan 11. Belum memiliki keyakinan yang pasti tentang keinginannya melaksanakan tubektomi 12. Tidak memiliki izin dari suami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar